Selasa, 03 November 2015

#‎halamanterakhir‬ di National Library of Australia


Review: Halaman Terakhir by Yudhi Herwibowo - Tiwi's Blog (http://tiw-uwi.blogspot.co.id)


Finally! I just finished reading a book titled "Halaman Terakhir" by Yudhi Herwibowo. The story is about Hoegeng's, Chief of Indonesian National Police, last days of service.


Hoegeng was born in Pekalongan, Central Java. His full name was Hoegeng Iman Santoso. But, he was always known by Hoegeng. After finished Senior High School, he decided to study Law in Jakarta, but then he moved to Yogyakarta for Police Course. That was when he started his police career. Yes, being a policeman was always his dream since teenager.

The book tells about two big cases on Hoegeng's last days of service. Two cases that he couldn't finished until his dismissal. The first case came from Sumaryah, a 16 year old egg seller girl in Yogyakarta, who was raped by four men in a red Volkswagen Kombi car. The case was blown up by a news written by a journalist named Djaba Kresna. Sumaryah said that when she was walking home alone at dusk, a red Kombi stopped by in front of her and one of the passengers pulled her into the car. She remembered there were four men in the car, one looked like an Arabian, one like a Chinese, one had long hair, and the other one she could not see clearly. She was sedated an raped in that car. At about midnight she was pushed from car on a country road. 

According to the news and investigation written and done alone by Djaba Kresna, the red Kombi belonged to a dentist whose car was borrowed by his son-in-law on the accident day. His son-in-law known to have face like an Arabian and was the son of an army general. He also known to have three close friends and it was possible on that day they were together. 

The case twisted as the investigation continued. The results reported to Hoegeng by Yogyakarta Police Department way different. So, he asked his subordinates to go to Yogyakarta and do their own investigation. They came back to Jakarta with a good report about the investigation. But, sadly, suddenly the case was diverted by the president to be finished by other institution.

The second one was about luxurious car smuggling done by Soni Cahaya and his two brothers. After doing some investigation, Hoegeng's subordinates successully caught them and brought them to the prisoner. But, not so long after that, they were freed with warranty from unknown person. 

There were rumours about the smugglers' closeness to president's family. Journalists kept asking Hoegeng about this, but he always answered that the investigation should be done first before came out with the conclusion. One day, when Hoegeng and his subordinates came to president's residence, he saw a luxurious black car that was belong to Soni Cahaya. He felt that it confirmed about the rumour. He changed his mind and went back home with a broken heart.

Not so long after that, a letter from president came. He was no longer the Chief of Indonesian National Police, he was then an Ambassador for Belgium Kingdom. He refused to be an ambassador and chose to retire instead.

...

I heard about Hoegeng some time ago. My dad said he was the best policeman in Indonesia. He was not like any other policeman. He was honest, firm, and modest. And it was all captured well in this book. 

The book gave the image of Orde Baru regime which was known for its dictatorship. Bans, pemberedelan, was some kind of popular term in that era. It's what happened when you criticize government through the media. Collusion was also another Orde Baru's sin that was captured in this book.

Nowadays, rarely we found public officials as modest as Hoegeng. He lived simply with his own idealism. He was not wavered by the threat of losing his position, it was never important to him. I also believe, that was not because of himself alone, his wife and family who always supported him, made him that kind of person. Remember the words: behind every great man is a great woman. Luckily, he got a wife who was not only modest, but also unpretentious and trust on his man. That was a lot of support.
...

Sebuah jalanan yang dirawat dengan baik akan selalu menumbuhkan bunga-bunga wangi di sepanjang jalannya - Hoegeng


http://tiw-uwi.blogspot.co.id/2015/04/review-halaman-terakhir-by-yudhi.html

Halaman Terakhir: Kisah Pahit Jenderal Polisi Hoegeng, Review di Blog Syalala- (http://hereyougo-al.blogspot.co.id)

 

Judul: Halaman Terakhir
Pengarang: Yudhi Herwibowo
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Noura Book
Jumlah halaman: 434
“Wat kan men I het leven al niet bereiken, als men eer lijik is. Men kan bemind geerd en gaacht worden…
Apa yang tak bisa dicapai seseorang dalam kehidupan jika ia jujur? Orang bisa dicintai, dimuliakan, dan dihormati. (Rosihan Anwar)”
            Kutipan diatas pretty much explains about this novel. Novel historical-fiction ini mengisahkan seorang jenderal polisi, yang hidup pada tahun 1970-an, yang bernama Jenderal Hoegeng Imam Santoso. Beliau adalah seorang jenderal polisi yang dikenal jujur, adil, dan tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan. Sejak diangkatnya Hoegeng menjadi Panglima Angkatan Kepolisian Republik Indonesia pada Mei 1968, Hoegeng memegang kendali beberapa kasus yang terjadi kala itu; bahkan beliau adalah orang pertama yang mengusulkan penggunaan helm bagi pengendara motor!
Narasi dibawakan dalam sudut pandang orang ketiga, di mana nama dari setiap karakter disebutkan. Cerita yang dibawakan pun berubah-ubah sudut pandangnya, sehingga pembaca mengetahui apa yang sedang terjadi lebih detail dari orang yabg berbeda-beda, seperti pelaku kejahatan, seorang wartawan, korban, bawahan Jenderal Hoegeng, dan Jenderal Hoegeng sendiri. 
            Novel Halaman Terakhir memfokuskan cerita pada dua kasus besar yang terjadi pada masa jabatan Jenderal Hoegeng, yaitu kasus pemerkosaan seorang gadis penjual telur yang bernama Sumaryah dan kasus penggelapan mobil mewah. Dalam novel ini diceritakan hal apa saja yang terjadi, kronologi kejadian, dan upaya apa yang dilakukan oleh kepolisian di bawah pimpinan Jenderal Hoegeng untuk menyelesaikan kasus. Tapi tentu saja, selalu ada permainan di belakang panggung yang tidak diketahui oleh Jenderal Hoegeng.
           
            Seperti kutipan Rosihan Anwar yang disebutkan sebelumnya, orang jujur tidak selalu mendapatkan kemuliaan dan kehormatan. Jenderal Hoegeng mendapatkan berbagai macam kendala dalam usahanya menyelesaikan dua kasus besar, bahkan ketika ia hampir menyelesaikan kasus ini. Dengan semangat dan tekadnya yang kuat, ia terus mengabdi pada negara Indonesia, bahkan ketika ia dicabut jabatannya oleh pemerintah.
            Hidup sebagai orang jujur pada kala itu tidaklah mudah. Novel ini secara tidak langsung menceritakan keadaan negara yang ada pada saat itu, sesaat sebelum pemerintah mengambil alih media dan ketika hal itu terjadi. Hidup Jenderal Hoegeng, sebagai anggota kepolisian yang bersih, juga tidak mudah. Novel ini membuat saya sadar bahwa perjuangan tokoh-tokoh nasional tidak berhenti setelah Indonesia merdeka.
Walaupun novel ini merupakan sebuah cerita fiksi, pembaca, terutama saya, merasa mendapatkan sedikit banyak pelajaran mengenai sejarang Indonesia. Sejujurnya, saya tidak begitu menyukai novel historikal, tapi saya sangat menikmati membaca novel Halaman Terakhir. Tidak selamanya belajar sejarah itu membosankan. Bahkan ada sebuah komedi yang diselipkan sebagai bentuk kritik masyarakat terhadap apa yang terjadi masa itu.  

“Pak, lapor. Saya baru saja kemalingan…”
“Apaaa? Kemalingan? Laporan palsu itu. Palsuuu!”
“Pak, lapor. Saya baru saja ditabrak…”
“Apaaa? Ditabrak? Laporan palsu itu. Palsuuu!”
“Lah, palsu gimana toh, Pak? Lah, ini kepala saya sudah putus.”


            Akhir dari novel ini bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah ditebak. Ketika membaca, saya ikut merasa tegang ketika sebuah kasus sedang dalam masa penyelidikan, atau bahkan geregetan ketika sesuatu terjadi diluar dugaan, tawa juga hadir karena ada sedikit unsur komedi yang dituliskan. Begitu banyak hal yang terjadi dalam novel ini, dalam negeri ini, begitu pula dengan kehidupan Jenderal Hoegeng. TIdak ada salahnya untuk membaca dan mengetahui sendiri apa yang terjadi pada Jenderal Hoegeng dan bagaimana kasus-kasus tersebut akhirnya ditangani. And for me, I give it 10 out of 10! 


http://hereyougo-al.blogspot.co.id/2015/03/halaman-terakhir-kisah-pahit-jenderal.html?showComment=1446616980752#c7302509947813417513

Rabu, 30 September 2015

Promo #HalamanTerakhir di Timeline FB Saya


REVIEW Halaman Terakhir oleh Luckty Giyan Sukarno di Facebook



Menerima pemberian pertama itu seperti menaruh kuman di lengan. Akan terasa sedikit gatal, lantas kita akan menggaruknya pelan-pelan dengan rasa nikmat luar biasa. Makin sering dan makin banyak diterima, gatal itu akan semakin intens, menggaruknya pun semakin keras, hingga bernanah. Karena itu, jauhi kuman dan upayakan untuk jangan sampai menempel pada bagian tubuh kita. Uang akan membuat tubuh kita selalu gatal bagai luka korengan. (hlm. 131)


Bagi Hoegoeng, menjadi polisi memang bukan perkara mudah. Tanggung jawab yang dimiliki mesti dipikul sepanjang hidup. Dan, mengendalikan diri dalam tanggung jawab itulah yang terpenting untuk  dijalani.

Hoegeng mencoba meyakinkan diri sendiri. Tapi ia tahu, kadang sebuah masalah tak sekedar seperti yang terlihat di permukaan; seringkali, bayang-bayang di belakangnya jauh lebih menakutkan!

Beliau tidak pandang bulu dalam bertindak. Pertama, saat anaknya, Aditya mendaftar ke AKABRI. Anaknya ini ingin bergabung di Angkatan Udara dan menjadi pilot pesawat tempur. Beliau tidak mau jika anaknya diterima hanya karena nama besar beliau. Anaknya sempat kecewa dengan keputusannya itu.

Kisah seperti itu tak hanya terjadi pada Aditya. Kepada istrinya pun, ia cukup keras memegang prinsip. Tak banyak yang mengetahui kisah ini. Kadang, ini terasa begitu penuh tekanan, jauh lebih membuatnya tertekan daripada tugas-tugasnya sebagai polisi. Namun, Hogeong selalu meyakini bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang memang harus dilakukan.

Membaca kisah Hoegoeng ini, hidupnya nggak beda jauh ama babe sendiri. Meski bukan berlatar belakang militer, tapi beliau amatlah tegas dan disiplin. Dulu kalo berangkat sekolah, telat dari jam waktunya berangkat, bakal ditinggal. Jangankan berangkat sekolah, sampai sekarang pun kalau ada acara keluarga seperti ke pernikahan saudara, kalo jam tujuh ya jam tujuh, lewat dari jam segitu bakal ditinggal, jadi semua saudara udah pada hapal kebiasaan babe ini. Mana ada yang berani ngaret kalo janjian ama babe, gyahahaha... :D

Ada dua kasus besar yang dibahas dalam buku ini. Pertama, tentang kasus pemerkosaan yang menimpa wong cilik. Kedua, tentang penyelundupan mobil mewah besar. Sebenarnya ini perkara yang bisa saja ditaklukkan Hoegoeng bersama anak-anak buahnya yang juga berdedikasi. Permasalahannya adalah dua kasus ini melibatkan orang-orang besar di negeri ini. Yang salah menjadi benar, begitu pula sebaliknya. Hoegoeng mengalami dilematis besar, harus memilih antara hati nurani atau keputusan pihak atas.

Kadang, sebuah vonis memang tak selalu bisa menyenangkan setiap orang, bukan? (hlm. 401)


Awalnya saya sempat ragu membaca ini dalam sekali duduk. Saya memang punya kebiasaan membaca buku dalam sekali waktu, kecuali kumpulan cerpen yang membacanya bisa dicicil tanpa harus selesai bersamaan dalam satu waktu. Tapi, tulisan Mas Yudhi ini mampu menyedot pikiran kita sebagai pembaca. Kita diajak seolah menyusuri tidak hanya kehidupan Hoegoeng semata, tapi juga kisah Sumaryah si gadis lugu yang penuh tekanan, Djaba Kresna dengan liputan dan tulisannya, serta anak buah Hoegoeng yaitu Jati Kusuma dan Wulan Sari.

Dua tokoh terakhir yang saya sebutkan tadi adalah tokoh favorit yang ada dalam buku ini. Sangat mustahil di zaman sekarang ini menemukan polisi seperti sosok Hoegoeng semasa hidupnya, ya minimal seperti Jati Kusuma ama Wulan Sari boleh juga ya, tapi kok sampe sekarang saya sama sekali belum menemukan sosok berdedikasi seperti mereka. Apa saya yang kurang gaul, atau kurang piknik?!? X))

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:
  1. Hidup kadang memang disertai firasat. (hlm. 13)
  2. Jalanan memang merangkai ceritanya sendiri. (hlm. 27)
  3. Apa yang tak bisa dicapai seseorang dalam kehidupan jika ia jujur? Orang bisa dicintai, dimuliakan dan dihormati. (hlm. 102)
  4. Tuhan selalu membalas keteguhan seseorang terhadap nilai-nilai kebaikan. (hlm. 160)
  5. Jangan takut, semua akan baik-baik saja. (hlm. 179)
  6. Sebuah jalanan yang dirawat dengan baik akan selalu menumbuhkan bunga-bunga wangi di sepanjang jalannya. (hlm. 375)
  7. Kadang, ada sebuah pertemuan yang akan diingat sepanjang hidup. (hlm. 408)
  8. Semua keputusan ada alasannya. (hlm. 419)
  9. Pada akhirnya, semua mesti kembali pada awal mula. (hlm. 424)
Banyak juga kalimat selipan sindiran halusnya:
  1. Siapa yang bisa menghindar? Bahkan, malam paling senyap pun akhirnya kalah dari sinar pagi yang paling lemah. Dan, siang paling terik sekalipun, kalah dengan rinai-rinai yang tak bertanda di tubuh. (hlm. 118)
  2. Sebenarnya mudah saja menilai seseorang itu berbohong atau tidak. (hlm. 200)
  3. Hidup di bawah bayang-bayang kematian tentu bukan hidup yang nyaman untuk dijalani. (hlm. 319)
  4. Adakalanya seseorang memang tak lagi bisa melawan, sekeras apa pun ia berusaha. (hlm. 407)
  5. Percayalah, hari pembalasan itu selalu tiba! (hlm. 414)
  6. Selalu ada sisi buruk dari berlalunya waktu. (hlm. 421)
Sekian kalinya membaca tulisan Mas Yudhi bernapas sejarah. Sebelumnya saya sudah membaca bukunya yang bertema sejarah berjudul Untung Surapati dan Pandaya Sriwijaya. Buku bertema sejarah memang cocoknya ditulis seperti ini, gampang dicerna karena dituliskan secara deskriptif dan tidak monoton seperti buk sejarah versi buku pelajaran.

Setelah buku ini, saya juga tertarik nih membaca buku bertema sejarah yang juga diterbitkan Noura Books baru-baru ini; 693km; Jejak Gerilya Sudirman. Sebagai anak jebolan IPS, satu-satunya pelajaran sosial yang saya suka adalah sejarah! ;)

Keterangan Buku:
Judul : Halaman Terakhir
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penyunting : Miranda Harlan
Penyelaras aksara : Nunung Wiyati & Sittah Khusnul Khotimah
Penata aksara : Abd Wahab & Alfiyan Rajendra
Desain sampul : AAA
Penerbit : Noura Books
Terbit : Februari 2015
Tebal : 436 hlm.
ISBN : 978-602-7816-65-7


https://www.facebook.com/notes/luckty-giyan-sukarno/review-halaman-terakhir/10152920556532693