Rabu, 30 September 2015
Resensi Halaman Terakhir dan Wawancara bersama Yudhi Herwibowo oleh Alvina di Blog Mari Ngomongin Buku
Judul Buku
: Halaman Terakhir
Penulis :
Yudhi Herwibowo
Penerbit :
Noura Books
Tebal : 448
halaman, paperback
Cetakan
pertama : Februari 2015
ISBN : 9786027816657
Pertama
kali saya membaca Untung Surapati karya Mas Yudhi, saya hampir tak bisa
berhenti membacanya. Menurut saya, Mas Yudhi cakap sekali menyusun cerita yang
berdasarkan sejarah. Alurnya mengalir dengan apik dan lancar, seakan akan kita
ikut ada di sana menyaksikan kisahnya. Maka ketika ia menerbitkan satu lagi
bukunya yang berhubungan dengan sejarah, saya langsung memasukkannya ke dalam
daftar baca.
Halaman terakhir menceritakan tentang Hoegeng, mantan Kapolri yang punya riwayat membanggakan. Ada kisah- kisah yang belum selesai saat Hoegeng lengser dari jabatan Kapolri, tetapi ada dua yang merupakan kasus besar yaitu Sum Kuning dan Cahaya. Sum kuning merupakan kasus pemerkosaan seorang gadis penjual telur di Yogyakarta, sedangkan Cahaya merupakan kasus penyelundupan mobil-mobil mahal ke Indonesia.
Sebagai Kapolri, Hoegeng mengikuti perkembangan kasus Sum meski tempat kejadian berjarak ratusan kilometer dari markas besarnya. Sum mengaku telah diperkosa di dalam mobil kombi merah oleh empat orang pemuda. Tetapi polisi setempat mencoba menutup nutupi kasus ini, bahkan mengambil kambing hitam sebagai pelakunya. Desas desus mulai bermunculan, banyak pihak yang menyebutkan bahwa polisi berpura pura menutup mata karena salah satu tersangka memiliki hubungan kekeluargaan dengan seorang Jenderal besar. Apa benar demikian?
Sementara itu, di Jakarta sedang mencuat kasus penyelundupan mobil mewah. Hal yang paling menyesakkan Hoegeng tentang kasus ini, kelak, adalah karena tersangka memiliki hubungan dengan orang yang selama ini sangat dihormati Hoegeng. Sejak itu ia tahu, ia tak akan pernah bisa menyelesaikan kasus ini, bahkan sampai ia lengser dari jabatannya.
Ternyata seperti dugaan saya, buku ini selesai saya baca hanya dalam semalam hari. Padahal biasanya mah saya selalu tersendat sendat saat membaca hal hal yang berhubungan dengan sejarah. Alurnya cepat, gerak gerik tokohnya dilukiskan dengan apik dan membuat pembacanya penasaran, seberapa besar sih masalah yang dihadapi Hoegeng ini. Melalui buku ini juga kita seakan kembali lagi ke Indonesia puluhan tahun lalu, dengan latar yang diceritakan secara sederhana tapi tetap mampu mepermudah pembaca membayangkan adegan demi adegannya.
![]() |
| Hoegeng (source.wiki) |
Karena buku ini juga, saya jadi mencari tahu sejarah dan sepak terjang Hoegeng,
karena jujur saja sebelumnya saya tak tahu Hoegeng itu siapa. Apa sih yang
membuat beliau menjadi sosok istimewa? Ya, ternyata setelah membaca buku ini
saya baru tahu kebaikan dan ketulusan seorang Hoegeng. Sebagai seorang
petinggi, ia jeli dan tegas saat menilai atau menghadapi suatu kasus. Bahkan
meski kasus tersebut berada di luar Jakarta, ia sebagai Kapolri terus mengawasi
bahkan jika perlu turun tangan membantu penyelidikan. Sebagai seorang pribadi,
Hoegeng memiliki sifat ramah dan perhatian bahkan terhadap anak buahnya. Ia
juga sangat menyayangi istri dan keluarganya dan yang lebih utama, ia adalah
seorang yang amat jujur. Contohnya saja ketika istrinya ingin pulang menengok
ayahnya yang sakit di luar negeri, meski sang istri dapat sumbangan uang dari
saudara saudaranya, tapi dengan berat hati Hoegeng tak mengijinkannya pergi
sebab Bagaimana kalau nanti orang orang mengira uang tersebut bukanlah uang
"halal"? Atau ketika Hoegeng dan sang istri memiliki toko bunga yang
kemudian ditutup, karena bagaimana kalau kemudian setiap ada acara, banyak kolega
yang memesan rangkaian bunga ke toko mereka? Bukankah itu akan mematikan
penjualan toko bunga lainnya? Duh, saya rasa istri Hoegeng juga punya hati yang
sama luasnya seperti milik beliau.
Ah sebuah cerita yang apik dan berkesan, memberi teladan bagi kita agar selalu berusaha untuk bersikap jujur.
Nah, saya
juga punya sedikit ngobrol sama Mas Yudhi, sang penulis Halaman Terakhir. Orangnya
baik banget, diemail aja mau njawab loh.. XD
1. Perihal
apa yang membuat Mas Yudhi membuat novel ini? Apakah tawaran dari Mizan atau
memang niatan pribadi? Ceritain dikit donk x)
Awalnya
Penerbit Noura memang punya rencana menovelkan beberapa tokoh inspiratif di
nusantara. Saya dihubungi untuk menulis seorang tokoh. Namun karena kurang sreg
dengan tokoh yang ditawarkan, saya menolak. Sampai akhirnya tokoh Hoegeng
kemudian ditawarkan. Saya kemudian menerimanya dengan sangat yakin.
Tentu untuk
menulis biografi atau novel yang diangkat dari biografi seseorang, penulis
harus memiliki ketertarikan dengan karakter tersebut. Dan sudah sejak lama saya
memang sudah mendengar tentang reputasi Bapak Hoegeng. Saya senang bisa
menulisnya.
2. Sejak
kapan Mas Yudhi mengetahui sosok Hoegeng? Apakah jauh sebelum acara Kick Andy
diputar?
Sebelumnya
saya hanya mendengar tentang sosok Hoegeng samar-samar saja, misalnya seperti yang
sering diungkapkan oleh Gus Dur (dan dipakai sebagai salah satu emdorstment di
cover buku saya). Itu quotes yang sering dipetik di mana-mana. Tapi kisah
Hoegng yang cukup lengkap memang baru saya tahu saat acara Kick Andy tahun 2009
itu.
3. Berapa
lama waktu yang diperlukan Mas Yudhi mulai dari riset sampai naskah jadi? Terus
revisinya berapa bulan sampai naik cetak?
Sebenarnya
penggarapan awalnya tak lebih dari 6 bulan. Ini sudah termasuk riset di
beberapa perpus di Solo dan Jogja, dan mendatangi Mas Aditya Hoegeng di Jakarta
beberapa kali. Namun setelah jadi, sambil menunggu daftar terbit, saya
merevisinya, mungkin sekitar 6 bulan juga.
4. Saya
selalu suka sama cerita cerita Mas Yudhi yang terilhami sejarah. Seperti Untung
Surapati sebelumnya, Novel Halaman Terakhir ini juga padat dengan peristiwa
peristiwa. Apakah Mas yudhi memang suka pelajaran sejarah dari kecil? Apa yang
membuat Mas Yudhi menyukainya?
Saya memang
suka sejarah. Sebelum Untung Surapati saya menulis Pandaya Sriwijaya, bahkan
sebelum itu saya menulis novel Samurai Cahaya, yang walau pun merupakan novel
samurai, sedikit menyerempet soal sejarah Jepang.
Menulis Halaman
Terakhir merupakan tantangan buat saya, karena bila dalam Pandaya Sriwijaya
saya hanya menempatkan sejarah dalam setting, dan dalam Untung Surapati
saya menempatkan keutuhan sejarah begitu kental, di Halaman Terakhir saya
mencoba berada di tengah-tengah. Data sejarah yang sebenarnya sangat banyak
itu, harus saya pilih-pilih agar buku ini tidak menjadi buku yang penuh data.
Saya memang sangat menghindari catatan kaki, karena menyadari bagaimana posisi
novel sebenarnya. Saya tetap harus mengutamakan keasyikan membaca novel,
bagaimana saat pembaca merasa sedih, atau gembira. Inilah saya rasa yang
menjadi tantangan bagi penulis sejarah yang sesungguhnya.
5. Ada ngga
sih, sosok penuh inspirasi lainnya yang amat ingin Mas Yudhi jadikan tokoh
dalam novel karya Mas Yudhi? Kalau ada, siapa?
Sebenarnya
ada beberapa tokoh yang ingin saya tulis. Beberapanya sudah saya tulis dalam cerpen.
Misalnya Raden Saleh, Van Gogh, Amir Hamzah, Tan Koen Swie, dll.
Untuk novel
saya ingin sekali menulis tentang Chairil Anwar, atau Tan Malaka. Tapi
sepertinya sudah banyak penulis yang menulis tentang 2 tokoh itu.
6. Selain 2
kasus terakhir di dalam buku, ada nggak kasus lain yg didapat dari hasil penyelidikan Mas Yudhi?
Sebenarnya
banyak. Beberapanya sempat saya singgung sedikit dalam Halaman Terakhir,
misalnya tentang penangkapan seorang jenderal polisi yang dituduh menjadi
backing seorang pengusaha dan akhirnya memakai ilmu hitam pada Hoegeng. Itu
kisah yang benar-benar ada. Atau kisah tentang fitnah tentang kepemilikan
perusahaan topi helm. Itu juga ada. Namun memang beberapanya tak cukup besar.
Dua kasus terakhir itulah yang memang cukup besar. Walau secara tegas dalam
novel itu, saya tak sekali pun menyebut tentang 2 kasus itu, dengan sebutan
yang dikenal oleh masyarakat selama ini. Hanya saja blurps yang dibuat penerbit
di cover itulah yang mengarahkan pembaca pada 2 kasus itu.
7. Apa kesulitan
paling besar yang Mas Yudhi hadapi saat membuat novel ini?
Kesulitannya
mungkin saya merasa terlalu banyak mengutip buku lainnya. Ini membuat saya tak
nyaman. Kadang ada beberapa bagian yang saya pikirkan lama sekali. Misalnya
percakapan Hoegeng dengan beberapa tokoh ternama, misalnya Presiden Soekarno.
Rasanya aneh saat saya hanya menyalin saja percakapan itu. Tapi karena itu
merupakan autobiografi, saya juga tak cukup berani mengubahnya. Sehingga yang
kemudian saya lakukan hanyalah berusaha membuat kalimat-kalimat berbeda, dengan
makna yang hampir sama. Saya pikir ini bisa dimaklumi.
Buku
autobiografi Hoegeng yang ditulis Abrar Yusa dan Ramadhan KH itu memang
merupakan buku yang sangat lengkap, hampir kisah-kisah masa lalu Hoegeng saya
ambil dari buku itu. Sebenarnya saya sempat melakukan crosscheck dengan
bertanya beberapa pertanyaan pada Mas Aditya Hoiegeng, namun jawabannya kurang
lebih sama dengan yang ada di dalam buku.
8. Ada
harapan khusus ngga terhadap pembaca yang udah membaca buku ini? Misalnya apa
menginspirasi, atau mengenal sosok Hoegeng lebih dekat, atau sebagainya gitu?
Saat saya
pertama kali datang, Mas Aditya Hoegeng bertanya pada saya, kenapa saya memilih
Hoegeng? Ia bercerita bagaimana buku sebelumnya –yang merupakan kumpulan esai
tentang Hoegeng- menumpuk di gudang penerbit dan tak laku, hingga kemudian
diupayakanlah agar buku itu dapat tersebar dengan mengajukannya pada acara Kick
Andy.
Saya sudah
tahu bagaimana posisi buku saya ini kelak, tapi pertimbangan menulis tentu bukan
sekadar masalah laku dan tak laku, ada yang harus diupayakan lebih dari itu.
Menulis sosok Hoegeng, seperti menjadi keharusan bagi saya, di mana kondisi
kepolisian kita saat ini ada dalam posisi yang tak cukup dipercaya oleh publik.
Saya merasa para calon polisi dan polisi muda seperti kehilangan pegangan
tentang sosok panutan. Hadirnya sosok Hoegeng, saya rasa dapat -sedikit-banyak-
mengembalikan keyakinan itu. Dan saya berharap semuanya menjadi lebih
baik.
Terima
kasih Mas Yudhi, saya pribadi berharap semoga Mas Yudhi makin banyak
menulis kisah-kisah yang menorehkan sejarah lainnya :)
http://www.orybooks.com/2015/08/resensi-halaman-terakhir-dan-wawancara.html
Jumat, 31 Juli 2015
Resensi Halaman Terakhir oleh Denny YF Nasution, staf ahli anggota DPR di Koran Jakarta 30 Juli 2015
Judul : Halaman Terakhir, Sebuah Novel
tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Noura Books
Terbit : Februari 2015
Tebal : 436 Halaman
ISBN : 978-602-7816-65-7
“Adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik,” ungkap mendiang mantan Kapolri Jenderal Hoegeng. Sebuah fakta sejarah bisa saja menjadi menarik dibaca (kembali) dalam narasi lain. Novel sebagai karya fiksi yang mengandung imajinasi dan ciptaan khayali pengarang, tentu saja tidak bisa dipertanggungjawabkan sebagai kebenaran sejarah.
Namun, sebuah novel bisa saja diterima sebagai salah satu dokumen sejarah, betapa pun merupakan sebuah fiksi. Sebab dia ditulis berdasarkan penggalan-penggalan kisah nyata dan fakta-fakta sejarah.
Novel tentang Hoegeng ini sebuah kisah sejarah tentang seorang pemimpin tertinggi Polri yang dikenal dan dikenang karena kesederhanaan, integritas, dan kejujurannya. Tidak hanya itu. Novel juga mengungkap dua peristiwa besar yang melingkupi perjalanan karir Hoegeng Iman Santoso, sang Jenderal Polisi, sehingga dipensiunkan dini. Dia terpaksa melepas jabatannya sebagai Kapolri.
Penculikan dan pemerkosaan Sumarijem atau Sum Kuning yang diduga melibatkan anak penggede serta penyelundupan mobil mewah oleh Robby Cahyadi terjadi di awal Orde Baru. Itu terjadi sekitar tahun 1970-an. Ini berarti dua tahun setelah Soeharto dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 27 Maret 1968. Dua peristiwa inilah yang menjadi latar cerita novel.
Kisah bermula pada tokoh bernama Sumaryah, gadis 16 tahun penjual telur dari Desa Djetak, Godean, Sleman, Yogyakarta. Semua seharusnya baikbaik saja bagi Sumaryah. Namun, pada suatu sore menjelang senja, sehabis berjualan telur dan mendapat hasil tagihan dari pelanggannya, Sumaryah mengalami peristiwa yang jika bisa ingin dilupakannya seumur hidup. Di jalanan desanya yang sepi, Sumaryah dinaikkan ke dalam mobil oleh empat pemuda, lalu diperkosa (hal 6).
Penculikan dan pemerkosaan gadis desa yang kemudian menggegerkan Yogyakarta ini sempat menjadi isu nasional ketika itu. Bahkan sempat membuat Presiden Soeharto turun tangan (hal 216). Korban pemerkosaan, Sumaryah (Sum), malah ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Sum dianggap berbohong. Laporannya dianggap sebagai palsu.
Meski terpisah ratusan kilometer, kasus itu tetap menggetarkan kesatuan polisi pusat di Jakarta, dan membuat gerah Hoegeng, sang Kapolri. Setelah menggali amat dalam, ganjalan besar terus saja menghalangi usaha menemukan pelaku. Berbagai gangguan mengalihkan penyidikan dari bukti dan fakta.
Inilah yang mengganggu Hoegeng sebagai Kapolri. Belum usai berjibaku dengan para pelaku penculikan dan pemerkosaan, terjadi penyelundupan mobil mewah besar di Jakarta. Keterlibatan putra seorang pejabat tinggi di tanah air membuat kasus ini sulit disentuh dasar masalah. Para pelaku telah mengantisipasi langkah Hoegeng dan anak buahnya, semakin dalam penyelidikan, semakin bukti-bukti menghilang.
Kasus-kasus itu membebani nurani Hoegeng dan menguji integritasnya sebagai polisi. Dua kasus ini cukup menyita energinya dan tidak terbuka, sampai dia dicopot dari Kapolri (hal 361-2). Tentu saja otensitas data dan fakta tersebut menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis. Ada nama-nama yang dibiarkan apa adanya seperti Soeharto dan Adam Malik. Ini menegaskan nuansa sejarah novel.
Novel ini menarik karena rangkaian peristiwa ditulis mengalir lancar, meskipun ada beberapa penggambaran moment sejarah yang terlalu detail. Hal seperti ini tidak perlu dimasukkan seluruhnya ke dalam cerita.
Namun itu tidak mengurangi mutu novel dan tujuan karya. Novel ini bisa menjadi pengingat sosok Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sebagai pemimpin dan pejabat negara yang sederhana, jujur, dan lurus. Prinsipprinsipnya rasanya memang sulit ditemukan pada tahun-tahun belakangan. Diresensi Denny YF Nasution, staf ahli anggota DPR
tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Noura Books
Terbit : Februari 2015
Tebal : 436 Halaman
ISBN : 978-602-7816-65-7
“Adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik,” ungkap mendiang mantan Kapolri Jenderal Hoegeng. Sebuah fakta sejarah bisa saja menjadi menarik dibaca (kembali) dalam narasi lain. Novel sebagai karya fiksi yang mengandung imajinasi dan ciptaan khayali pengarang, tentu saja tidak bisa dipertanggungjawabkan sebagai kebenaran sejarah.
Namun, sebuah novel bisa saja diterima sebagai salah satu dokumen sejarah, betapa pun merupakan sebuah fiksi. Sebab dia ditulis berdasarkan penggalan-penggalan kisah nyata dan fakta-fakta sejarah.
Novel tentang Hoegeng ini sebuah kisah sejarah tentang seorang pemimpin tertinggi Polri yang dikenal dan dikenang karena kesederhanaan, integritas, dan kejujurannya. Tidak hanya itu. Novel juga mengungkap dua peristiwa besar yang melingkupi perjalanan karir Hoegeng Iman Santoso, sang Jenderal Polisi, sehingga dipensiunkan dini. Dia terpaksa melepas jabatannya sebagai Kapolri.
Penculikan dan pemerkosaan Sumarijem atau Sum Kuning yang diduga melibatkan anak penggede serta penyelundupan mobil mewah oleh Robby Cahyadi terjadi di awal Orde Baru. Itu terjadi sekitar tahun 1970-an. Ini berarti dua tahun setelah Soeharto dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 27 Maret 1968. Dua peristiwa inilah yang menjadi latar cerita novel.
Kisah bermula pada tokoh bernama Sumaryah, gadis 16 tahun penjual telur dari Desa Djetak, Godean, Sleman, Yogyakarta. Semua seharusnya baikbaik saja bagi Sumaryah. Namun, pada suatu sore menjelang senja, sehabis berjualan telur dan mendapat hasil tagihan dari pelanggannya, Sumaryah mengalami peristiwa yang jika bisa ingin dilupakannya seumur hidup. Di jalanan desanya yang sepi, Sumaryah dinaikkan ke dalam mobil oleh empat pemuda, lalu diperkosa (hal 6).
Penculikan dan pemerkosaan gadis desa yang kemudian menggegerkan Yogyakarta ini sempat menjadi isu nasional ketika itu. Bahkan sempat membuat Presiden Soeharto turun tangan (hal 216). Korban pemerkosaan, Sumaryah (Sum), malah ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Sum dianggap berbohong. Laporannya dianggap sebagai palsu.
Meski terpisah ratusan kilometer, kasus itu tetap menggetarkan kesatuan polisi pusat di Jakarta, dan membuat gerah Hoegeng, sang Kapolri. Setelah menggali amat dalam, ganjalan besar terus saja menghalangi usaha menemukan pelaku. Berbagai gangguan mengalihkan penyidikan dari bukti dan fakta.
Inilah yang mengganggu Hoegeng sebagai Kapolri. Belum usai berjibaku dengan para pelaku penculikan dan pemerkosaan, terjadi penyelundupan mobil mewah besar di Jakarta. Keterlibatan putra seorang pejabat tinggi di tanah air membuat kasus ini sulit disentuh dasar masalah. Para pelaku telah mengantisipasi langkah Hoegeng dan anak buahnya, semakin dalam penyelidikan, semakin bukti-bukti menghilang.
Kasus-kasus itu membebani nurani Hoegeng dan menguji integritasnya sebagai polisi. Dua kasus ini cukup menyita energinya dan tidak terbuka, sampai dia dicopot dari Kapolri (hal 361-2). Tentu saja otensitas data dan fakta tersebut menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis. Ada nama-nama yang dibiarkan apa adanya seperti Soeharto dan Adam Malik. Ini menegaskan nuansa sejarah novel.
Novel ini menarik karena rangkaian peristiwa ditulis mengalir lancar, meskipun ada beberapa penggambaran moment sejarah yang terlalu detail. Hal seperti ini tidak perlu dimasukkan seluruhnya ke dalam cerita.
Namun itu tidak mengurangi mutu novel dan tujuan karya. Novel ini bisa menjadi pengingat sosok Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sebagai pemimpin dan pejabat negara yang sederhana, jujur, dan lurus. Prinsipprinsipnya rasanya memang sulit ditemukan pada tahun-tahun belakangan. Diresensi Denny YF Nasution, staf ahli anggota DPR
Quotes Hoegeng yang Saya Temukan di Warung BS (Bintangnya Sambal) Mojosongo
Saat makan dengan kawan saya, Lila, tanpa sengaja menemukan quotes ini di antara puluhan quotes2 dari tokoh-tokoh ternama dari seluruh dunia. Saya baru sadar di depan warung ini, selain mempromosikan aneka sambal yang dijual, warung ini juga mencantumkan promo: berisi quotes2 inspirasi dan motivasi :)
Review Halaman Terakhir oleh Tanzil Hernadi di Blog Buku yang Kubaca
[No 357]
Judul : Halaman Terakhir - Sebuah Novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Februari 2015
Tebal : 436 hlm
Halaman terakhir adalah novelisasi penggalan dari kehidupan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi teladan yang jujur, berintegritas, dan sederhana yang mungkin hingga kini tidak ada yang sepertinya. Di novel ini penulis hanya membatasi kisahnya dari dua kasus terakhir yang ditangani oleh Hoegeng sebelum ia dipurna baktikan sebelum masa tugasnya berakhir oleh pemerintah Orde Baru saat itu.
Novel ini dimulai dengan sebuah prolog yang mengisahkan bagaimana pergulatan batin Hoegeng saat membaca surat dinas dari Menhankam yg salah satu kalimatnya berbunyi seperi ini
"...dengan ini kami menunjuk Jenderal Hoegeng Iman Santoso sebagai Duta Besar Kerajaan Belgia..."
Kalimat itu menandaskan bahwa tugasnya sebagi Kapolri telah selesai walaupun sebenarnya masa tugasnya belum habis. Sebagai seorang prajurit Hoegeng menerima keputusan tersebut namun yang disesalkannya adalah mengapa ia harus berhenti saat ia sedang menyelesaikan dua kasus besar yang selama ini menyita energi dan waktunya. Dua kasus yang telah dijanjikannya akan terselesaikan selama masa kepemimpinannya.
Kemudian setting kisah beralih secara beruntun ke dua kasus terakhir Hoegeng yaitu pemerkosaan Sumaryah, gadis desa penjual telur di Jogyakarta yang kelak akan menghebohkan masyarakat Indonesia karena ada dugaan keterlibatan anak pejabat, dan kasus penyeludupan mobil mewah oleh Soni Cahaya yang memiliki kedekatan dengan Keluarga Cendana dan diduga melibatkan para pejabat terkait dalam usaha ilegalnya ini.
Dalam kisah Sumaryah penulis menarasikan tragedi gadis penjual telur itu dengan dramatis mulai dari perkosaan yang dilakukan empat orang pemuda dalam mobil combi terhadap Sumaryah hingga proses persidangan yang berlarut-larut, berbelit, dan melelahkan.Tekanan batin yang dialami Sumaryah terungkap dengan jelas di novel ini, apalagi ketika pada akhirnya dia sempat menjadi tersangka atau bagaimana kasusnya ini menjadi kasus besar dan rumit karena diduga ada anak pejabat yang terlibat dan hadirnya tersangka dan saksi-saksi baru yang janggal. Hal inilah yang menyebabkan Jenderal Hoegeng menaruh perhatian khusus terhadap kasus ini dengan membentuk tim khusus sebelum akhirnya kasus ini tiba-tiba diambil alih oleh Terpepu (Tim Pemeriksa Pusat) yang biasanya mengurusi kasus-kasus berdimensi politik.
Pada kasus penyeludupan mobil mewah pembaca akan diajak melihat bagaimana Soni Cahaya mendatangkan mobil-mobil mewah dengan cara yang cerdik yang tentu saja melibatkan instansi-instansi terkait. Di bagian ini pembaca juga disuguhkan keseruan proses penangkapan Soni Cahaya sang gembong penyeludup mobil mewah.
Setelah menarasikan dua kasus terakhir Hoegeng, di bab-bab terakhir penulis menyuguhkan bagaimana kehidupan Hoegeng setelah tidak menjadi Kapolri lagi antara lain menjadi pengisi acara talk show Radio Elshinta yang membahas isu-isu sosial hingga menjadi seorang penyanyi Hawaian yang pada akhirnya bersama groupnya yang bernama Hawaiian Senior tampil seminggu sekali di TVRI.
Di bagian ini kita akan melihat kepedulian Hoegeng sebagai seorang polisi yang berbedikasi tidak luntur walau ia telah pensiun. Dari acara radio yang diasuhnya ia kerap menerima pengaduan-pengaduan masyarakat. Apa yang ia dengar ia catat dan sampaikan ke teman-teman atau anak buahnya yang masih aktif di kepolisian lewat sebuah memo.
Di bagian akhir novel ini kita juga akan melihat bagaimana pada akhirnya Hoegeng disingkirkan pemerintah Orde Baru ketika pada akhirnya ia memilih berseberangan dengan pemerintah dan bergabung bersama Jenderal (Purn) Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, dll yang tergabung dalam Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB) dan menandatangani sebuah petisi yang kelak akan dikenal dengan sebutan Petisi 50 ditujukan pada pemerintah. (5 Mei 1980)
"Dan dari situlah, semua hal yang seharusnya tak diterimanya kemudian diterima! Presiden Soeharto, yang pada tahun-tahun itu semakin kuat, merasa kalau gerakan seperti itu seperti menentang dirinya. Maka, ia kemudian mencatat semua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan gerakan halus dan nyaris tak terlihat, Seoharto kemudian melakukan serangan balasan." (hl, 423)
Novel ini mengungkapkan bahwa sejak Hoegeng ikut menandatangani Petisi 50 maka banyak yang berubah dari kehidupannya, antara lain ia tidak bisa datang ke pernikahan Prabowo dan Titiek Soeharto padahal ia adalah sahabat Soemitro, ayah Prabowo. Selain itu TVRI juga menghentikan siaran musik Hawaiian Seniors, yang sudah berjalan bertahun-tahun. Hoegeng menerima semua perlakuan itu dengan lapang dada, hanya satu yang paling memberatkan dan melukai hatinya yaitu pelarangan dirinya untuk hadir di upacaya Bhayangkara (HUT POLRI), setiap tanggal 1 Juli.
Selain Hoegeng novel ini juga memunculkan tokoh-tokoh lain yaitu Djaba Kresna, wartawan yang peduli akan nasib Sumaryah yang mendapat perlakuan tidak adil yang ia tuliskan dalam bentuk berita atau opini di koran tempatnya bekerja. Lalu ada pula tokoh Jati Kusuma dan Wulan Sari, dua orang polisi yang ditugasi oleh Hoegeng untuk menangani kasus Sumaryah dan Soni Cahaya. Ketiga tokoh ini membuat novel ini menjadi semakin menarik karena ketiga tokoh inilah yang membuat kisah Hoegeng dan dua kasus yang ditanganinya ini menjadi lebih hidup dan seru untuk dibaca.
Melalui novel yang dikerjakan hampir setahun dengan riset pustaka yang serius dan wawancara dengan keluarga Alm. Hoegeng penulis juga menyuguhkan latar peristiwa-peristiwa sejarah dan sosial yang terjadi di Indonesia semasa Hoegeng menjadi Kapolri sehingga kita bisa belajar sejarah melalui novel ini. Di luar dua kasus besar yang ditangani Hoegeng terungkap juga bagaimana sulitnya Hoegeng menerapkan peraturan pemakaian helm bagi pengendara motor yang mendapat banyak tantangan dari masyarakat sampai-sampai Hoegeng diisukan memiliki pabrik helm sehingga mengeluarkan kebijakan tersebut.
Secara keseluruhan novel ini berhasil mengungkap dengan baik seluk beluk dan kerumitan penanganan dari dua kasus besar yang benar-benar pernah terjadi ini dalam balutan dramatisasi fiksi yang menarik. Namun sayangnya porsi pengungkapan dua kasus ini terlalu mendominasi kisahnya sehingga porsi dan ketokohan Hoegeng sendiri tampak sedikit tenggelam padahal sub judul novel ini adalah "Sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng". Sub judul tersebut tentunya akan menggiring pembaca pada persepsi bahwa mereka akan banyak mendapat kisah kehidupan Hoegeng sebagai seorang polisi.
Walau demikian, sekalipun tidak banyak, penulis tetap menyertakan kilasan-kilasan kehidupan Hoegeng mulai dari awal kariernya di kepolisian hingga masa pensiunnya sehingga pembaca dapat melihat sosok dan keteladanan Hoegeng sebagai polisi yang berdedikasi, jujur, dan sederhana. Hal ini antara lain terungkap ketika Hoegeng ditugaskan sebagai Kadit Reskim Sumatera Utara.
Ketika itu di dalam rumah dinasnya, ditemukan barang-barang mewah kiriman seorang pengusaha yang mengaku sebagai Ketua Panitia Selamat Datang.
Tentu saja, Hoegenge menolak sambutan itu. Namun, si tukang suap ternyata bukan orang yang mudah menyerah. Ia tak menghiraukan penolakan Hoegeng yang meminta barang-barang itu diambil kembali. Sehingga, sampai batas waktu yang ditetapkan, Hoegeng akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan barang-barang itu dari rumah dinasnya. (hlm 129-130)
Sikap Hoegeng untuk menolak pemberian itu adalah tindakan nyata dari apa yang pernah dipesankan Hoegeng pada anak buahnya sbb :
Selain hal di atas masih ada beberapa kisah lain yang mengungkap kejujuran dan dedikasi Hoegeng pada tugas yang diembannya sehingga novel ini patut dibaca oleh siapapun di tengah langkanya figur seorang pemimpin teladan di tengah-tengah kita. Dipaparkannya dua kasus besar yang sarat konflik kepentingan di masa Hoegeng bertugas di tahun 70an ini menyadarkan kita bahwa keadilan yang hampir tidak pernah dirasakan rakyat kecil seperti Sumaryah dan kasus kejahatan yang yang melibatkan instasi oknum-oknum di jajaran pemerintahan tetap saja masih terjadi di jaman ini. Apakah ini menandakan bahwa dalam segi hukum dan keadilan negara kita hanya "berjalan di tempat" ?
@htanzil Diposkan oleh htanzil di 1:56 PM
http://bukuygkubaca.blogspot.com/2015/06/halaman-terakhir-sebuah-novel-tentang.html
Judul : Halaman Terakhir - Sebuah Novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Februari 2015
Tebal : 436 hlm
Halaman terakhir adalah novelisasi penggalan dari kehidupan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi teladan yang jujur, berintegritas, dan sederhana yang mungkin hingga kini tidak ada yang sepertinya. Di novel ini penulis hanya membatasi kisahnya dari dua kasus terakhir yang ditangani oleh Hoegeng sebelum ia dipurna baktikan sebelum masa tugasnya berakhir oleh pemerintah Orde Baru saat itu.
Novel ini dimulai dengan sebuah prolog yang mengisahkan bagaimana pergulatan batin Hoegeng saat membaca surat dinas dari Menhankam yg salah satu kalimatnya berbunyi seperi ini
"...dengan ini kami menunjuk Jenderal Hoegeng Iman Santoso sebagai Duta Besar Kerajaan Belgia..."
Kalimat itu menandaskan bahwa tugasnya sebagi Kapolri telah selesai walaupun sebenarnya masa tugasnya belum habis. Sebagai seorang prajurit Hoegeng menerima keputusan tersebut namun yang disesalkannya adalah mengapa ia harus berhenti saat ia sedang menyelesaikan dua kasus besar yang selama ini menyita energi dan waktunya. Dua kasus yang telah dijanjikannya akan terselesaikan selama masa kepemimpinannya.
Kemudian setting kisah beralih secara beruntun ke dua kasus terakhir Hoegeng yaitu pemerkosaan Sumaryah, gadis desa penjual telur di Jogyakarta yang kelak akan menghebohkan masyarakat Indonesia karena ada dugaan keterlibatan anak pejabat, dan kasus penyeludupan mobil mewah oleh Soni Cahaya yang memiliki kedekatan dengan Keluarga Cendana dan diduga melibatkan para pejabat terkait dalam usaha ilegalnya ini.
Dalam kisah Sumaryah penulis menarasikan tragedi gadis penjual telur itu dengan dramatis mulai dari perkosaan yang dilakukan empat orang pemuda dalam mobil combi terhadap Sumaryah hingga proses persidangan yang berlarut-larut, berbelit, dan melelahkan.Tekanan batin yang dialami Sumaryah terungkap dengan jelas di novel ini, apalagi ketika pada akhirnya dia sempat menjadi tersangka atau bagaimana kasusnya ini menjadi kasus besar dan rumit karena diduga ada anak pejabat yang terlibat dan hadirnya tersangka dan saksi-saksi baru yang janggal. Hal inilah yang menyebabkan Jenderal Hoegeng menaruh perhatian khusus terhadap kasus ini dengan membentuk tim khusus sebelum akhirnya kasus ini tiba-tiba diambil alih oleh Terpepu (Tim Pemeriksa Pusat) yang biasanya mengurusi kasus-kasus berdimensi politik.
Pada kasus penyeludupan mobil mewah pembaca akan diajak melihat bagaimana Soni Cahaya mendatangkan mobil-mobil mewah dengan cara yang cerdik yang tentu saja melibatkan instansi-instansi terkait. Di bagian ini pembaca juga disuguhkan keseruan proses penangkapan Soni Cahaya sang gembong penyeludup mobil mewah.
Setelah menarasikan dua kasus terakhir Hoegeng, di bab-bab terakhir penulis menyuguhkan bagaimana kehidupan Hoegeng setelah tidak menjadi Kapolri lagi antara lain menjadi pengisi acara talk show Radio Elshinta yang membahas isu-isu sosial hingga menjadi seorang penyanyi Hawaian yang pada akhirnya bersama groupnya yang bernama Hawaiian Senior tampil seminggu sekali di TVRI.
Di bagian ini kita akan melihat kepedulian Hoegeng sebagai seorang polisi yang berbedikasi tidak luntur walau ia telah pensiun. Dari acara radio yang diasuhnya ia kerap menerima pengaduan-pengaduan masyarakat. Apa yang ia dengar ia catat dan sampaikan ke teman-teman atau anak buahnya yang masih aktif di kepolisian lewat sebuah memo.
Di bagian akhir novel ini kita juga akan melihat bagaimana pada akhirnya Hoegeng disingkirkan pemerintah Orde Baru ketika pada akhirnya ia memilih berseberangan dengan pemerintah dan bergabung bersama Jenderal (Purn) Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, dll yang tergabung dalam Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB) dan menandatangani sebuah petisi yang kelak akan dikenal dengan sebutan Petisi 50 ditujukan pada pemerintah. (5 Mei 1980)
"Dan dari situlah, semua hal yang seharusnya tak diterimanya kemudian diterima! Presiden Soeharto, yang pada tahun-tahun itu semakin kuat, merasa kalau gerakan seperti itu seperti menentang dirinya. Maka, ia kemudian mencatat semua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan gerakan halus dan nyaris tak terlihat, Seoharto kemudian melakukan serangan balasan." (hl, 423)
Novel ini mengungkapkan bahwa sejak Hoegeng ikut menandatangani Petisi 50 maka banyak yang berubah dari kehidupannya, antara lain ia tidak bisa datang ke pernikahan Prabowo dan Titiek Soeharto padahal ia adalah sahabat Soemitro, ayah Prabowo. Selain itu TVRI juga menghentikan siaran musik Hawaiian Seniors, yang sudah berjalan bertahun-tahun. Hoegeng menerima semua perlakuan itu dengan lapang dada, hanya satu yang paling memberatkan dan melukai hatinya yaitu pelarangan dirinya untuk hadir di upacaya Bhayangkara (HUT POLRI), setiap tanggal 1 Juli.
Selain Hoegeng novel ini juga memunculkan tokoh-tokoh lain yaitu Djaba Kresna, wartawan yang peduli akan nasib Sumaryah yang mendapat perlakuan tidak adil yang ia tuliskan dalam bentuk berita atau opini di koran tempatnya bekerja. Lalu ada pula tokoh Jati Kusuma dan Wulan Sari, dua orang polisi yang ditugasi oleh Hoegeng untuk menangani kasus Sumaryah dan Soni Cahaya. Ketiga tokoh ini membuat novel ini menjadi semakin menarik karena ketiga tokoh inilah yang membuat kisah Hoegeng dan dua kasus yang ditanganinya ini menjadi lebih hidup dan seru untuk dibaca.
Melalui novel yang dikerjakan hampir setahun dengan riset pustaka yang serius dan wawancara dengan keluarga Alm. Hoegeng penulis juga menyuguhkan latar peristiwa-peristiwa sejarah dan sosial yang terjadi di Indonesia semasa Hoegeng menjadi Kapolri sehingga kita bisa belajar sejarah melalui novel ini. Di luar dua kasus besar yang ditangani Hoegeng terungkap juga bagaimana sulitnya Hoegeng menerapkan peraturan pemakaian helm bagi pengendara motor yang mendapat banyak tantangan dari masyarakat sampai-sampai Hoegeng diisukan memiliki pabrik helm sehingga mengeluarkan kebijakan tersebut.
Secara keseluruhan novel ini berhasil mengungkap dengan baik seluk beluk dan kerumitan penanganan dari dua kasus besar yang benar-benar pernah terjadi ini dalam balutan dramatisasi fiksi yang menarik. Namun sayangnya porsi pengungkapan dua kasus ini terlalu mendominasi kisahnya sehingga porsi dan ketokohan Hoegeng sendiri tampak sedikit tenggelam padahal sub judul novel ini adalah "Sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng". Sub judul tersebut tentunya akan menggiring pembaca pada persepsi bahwa mereka akan banyak mendapat kisah kehidupan Hoegeng sebagai seorang polisi.
Walau demikian, sekalipun tidak banyak, penulis tetap menyertakan kilasan-kilasan kehidupan Hoegeng mulai dari awal kariernya di kepolisian hingga masa pensiunnya sehingga pembaca dapat melihat sosok dan keteladanan Hoegeng sebagai polisi yang berdedikasi, jujur, dan sederhana. Hal ini antara lain terungkap ketika Hoegeng ditugaskan sebagai Kadit Reskim Sumatera Utara.
Ketika itu di dalam rumah dinasnya, ditemukan barang-barang mewah kiriman seorang pengusaha yang mengaku sebagai Ketua Panitia Selamat Datang.
Tentu saja, Hoegenge menolak sambutan itu. Namun, si tukang suap ternyata bukan orang yang mudah menyerah. Ia tak menghiraukan penolakan Hoegeng yang meminta barang-barang itu diambil kembali. Sehingga, sampai batas waktu yang ditetapkan, Hoegeng akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan barang-barang itu dari rumah dinasnya. (hlm 129-130)
Sikap Hoegeng untuk menolak pemberian itu adalah tindakan nyata dari apa yang pernah dipesankan Hoegeng pada anak buahnya sbb :
Selain hal di atas masih ada beberapa kisah lain yang mengungkap kejujuran dan dedikasi Hoegeng pada tugas yang diembannya sehingga novel ini patut dibaca oleh siapapun di tengah langkanya figur seorang pemimpin teladan di tengah-tengah kita. Dipaparkannya dua kasus besar yang sarat konflik kepentingan di masa Hoegeng bertugas di tahun 70an ini menyadarkan kita bahwa keadilan yang hampir tidak pernah dirasakan rakyat kecil seperti Sumaryah dan kasus kejahatan yang yang melibatkan instasi oknum-oknum di jajaran pemerintahan tetap saja masih terjadi di jaman ini. Apakah ini menandakan bahwa dalam segi hukum dan keadilan negara kita hanya "berjalan di tempat" ?
@htanzil Diposkan oleh htanzil di 1:56 PM
http://bukuygkubaca.blogspot.com/2015/06/halaman-terakhir-sebuah-novel-tentang.html
Selasa, 09 Juni 2015
Membaca Hoegeng, Membaca Indonesia, oleh Setyaningsih di Koran Kedaulatan Rakyat 7 Juni 2015
Judul buku : Halaman Terakhir
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Noura Books
Cetakan : Pertama, Februari 2015
Tebal : viii+436 halaman
ISBN : 978-602-7816-65-7
Peta kejujuran kepolisian Indonesia pernah dirute
oleh sosok Hoegeng. Satu Jenderal Polisi Hoegeng, harapan Indonesia jujur,
berani, dan bermartabat adalah keniscayaan. Lewat novel ini, Yudhi Herwibowo
menampilkan sosok Hoegeng tidak hanya sebagai atasan yang memberikan kepercayaan
bagi anak buah untuk bekerja bagi Indonesia. Hoegeng juga sosok bapak dan suami
yang menasbihkan kejujuran sebagai pedoman hidup.
Hoegeng memiliki empat nama. Abdul Latif adalah nama
pemberian seorang peramal, kawan ayahnya. Nama Hoegeng Iman Santoso adalah nama
pemberian ayah. Eyang putri dari pihak ibu menamai Hoegeng Iman Soedjono. Buyut
memberi nama, Hoegeng Iman Waskito. Namun, Hoegeng lebih menyukai nama
“Hoegeng” saja yang menurutnya tidak mengandung
misi terlampau berat. Bahkan, nama ini bermula dari nama panggilan “si
bugel” karena Hoegeng memiliki tubuh gemuk. Panggilan ini kelamaan menjadi “Boegeng”
dan akhirnya menjadi Hoegeng.
Imajinasi polisi di benak Hoegeng bermula dari kawan
ayahnya bernama Ating Natadikusumah, Kepala Jawatan Kepolisian yang sering
mampir ke rumah. Visualitas sang polisi begitu memesona di mata Hoegeng kecil.
Seragam dinas menampakkan kegagahan, apalagi saat itu Ating mengendarai Harley
Davidson yang keren. Ditambah pistol terselip di pinggang merawat ingatan
Hoegeng untuk kelak menjadi polisi.
Dari hidup Hoegeng, pembaca insaf bahwa jalan hidup
kepolisian sering berliku dan banyak godaan. Hoegeng menolak “hadiah selamat
datang” saat ditugaskan sebagai kadit Reskrim Kantor Polisi Sumatra Utara pada
1955. Hoegeng mengharamkan barang sogokan untuk melicinkan segala tindak
penggelapan, penyelundupan, korupsi. Di masa Orde Baru, Hoegeng yang menjabat
Kapolri membentuk tim penyelidik untuk kasus perkosaan dialami Sumaryah di
Yogyakarta yang justru dituduh membuat pengakuan palsu oleh kepolisian daerah.
Sadar, kejujuran dan keberanian Hoegeng adalah
ancaman yang bakal menghancurkan stabilitas “keamanan” dari para penguasa. Ada
kejujuran yang nyaris kalah. Hoegeng akhirnya memilih keluar ketimbang menerima
posisi sebagai Duta Besar Kerajaan Belgia yang berarti “pembuangan” diri agar
tidak mengganggu jalan kelicikan. Membaca Hoegeng adalah membaca Indonesia di
saat kejujuran menjadi laku langka.
Langganan:
Postingan (Atom)








